MENELUSURI PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT ILMU

Oleh :

ASYHARI A. USMAN

  1. A.    Latar Belakang

Perkembangan ilmu berawal dari para filsuf yang mendiami wilayah pantai dan pulau-pulau Mediterania Timur, diakhir abad ke-6 dan ke-5 SM. Para filsuf pada jaman itu hanya dapat dikenal melalui kutipan-kutipan singkat yang dibuat oleh para pengarang yang hidup belakangan, mungkin setelah ratusan tahun, hal ini dapat dilihat dari salah satu ungkapan yang disampaikan oleh Thales “ Semuanya adalah Air” R. Ravertz Jerome dalam buku Filsafat Ilmu yang diterjemahkan oleh Saut Pasaribun (2009 : 7), Masyhur Thales yang dikenal sebagai filsuf tertua mengucapkan “Semuanya adalah air,” yang diikuti dengan cuplikan “dan dunia penuh dengan dewa-dewa”.  Pola pemikiran ini juga pada akhirnya mengalami pergeseran dari pola pikir yang bergantung pada dewa-dewa berubah menjadi pola pikir yang bergantung pada rasio, seiring dengan perjalanan waktu dan berbegai sebab-sebab yang dialami oleh manusia pada saat itu.

Perubahan pola pikir mitosentris ke logosentris membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalahnya, yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan bahkan dieksplorasi. Perubahan yang sangat mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik dialam jagad raya (makro kosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos). Dari penelitian alam jagad raya bermunculan ilmu astronomi, kosmologi, fisika, kimia, dan sebagainya sedangkan dari manusia dari manusia muncul ilmu biologi, psikologi, sosiologi dan sebagainya (Bakhtiar Amsal 2010 : XII).

Pada penghujung abad ke-5 SM. Penyelidikan semakin canggih namun masih berupa penjelasan spekulatif mengenai fenomena akal sehat ketimbang argumen yang benar-benar teknis tentang pengalaman-pengalaman buatan yang terkendali (controlled artificial experiences); yang baru muncul bersama Aristoteles. Selain itu, walaupun filsafat ini tumbuh subur dikalangan elit yang hidup di zaman yang dinamai zaman emas ketika Perikles memerintah Athena, namun akal sehat (common Sense) pada jaman itu masih bersifat mistis dan magis, yang dapat dilihat dari daftar keahlian yang ditulis dalam Dunia Prometheus karya Aeschylus. Di masa-masa sulit di penghujung abad ke-5 SM, kecurigaan terhadap ketakberagaman di kalangan para filsuf menguat dan hal itu tersirat dalam penghukuman terhadap Anaxagoras dan dalam serangan kepada Sokrates dalam Awan-Awan karya Aristophanes (Ravertz R. Jerome 2009 : 9).

Penelusuran perkembangan filsafat ilmu, sama artinya dengan membicarakan sejarah perkembangan filsafat ilmu itu sendiri. Kadang-kadang tampak kontradiktif. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor oleh para subjek, karena subjek pembahasan yang dipahami sebagai manusia yang berperasaan. Walaupun demikian, pengertian sjarah perkembangan itu harus diperluas agar mengikuti irama perkembangan yang berdasarkan pada kondisi yang dialami, baik secara geografis maupun kondisi sosial kultural yang ada.

Selain itu perubahan diukur bukan hanya dalam kaitannya dengan perubahan dalam kurun waktu yang lebih panjang yang selalu terjadi tanpa pemikiran individu. Oleh karena itu, sejarah dalam kurun waktu yang panjang (langue duree) adalah sejarah tentang perubahan struktural secara mendasar, tetapi ini hanya bisa diketahui dalam terang pola yang menjadi wahana untuk menyadari perubahan-perubahan tersebut.

Jerome R. Ravertz dalam bukunya Filsafat Ilmu yang diterjemahkan oleh Saut Pasaribu, menegaskan bahwa kesadaran yang terjadi dewasa ini tentang adanya masalah-masalah moral yang serius didalam ilmu, mengenai kekerasan-kekerasan eksternal dan paksaan-paksaan pada pengembangannya, dan mengenai bahaya-bahaya dalam perubahan teknologi yang tak terkendali, menantang para sejarawan untuk melakukan penilaian kembali secara kritis terhadap keyakinan awal yang sederhana ini. Ia juga menambahkan bahwa sejarawan segera menyadari bahwa gagasan ilmu yang diperoleh selama dalam pendidikannya hanyalah salah satu dari sekian gagasan, dan itu merupakan prodak dari konteks-konteks yang bersifat sementara.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa satu sisi ilmu berkembang dengan pesat, di sisi lain, timbul kekhawatiran yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu itu karena tidak ada seorang pun atau lembaga yang memiliki otoritas untuk menghambat implikasi negatif dari ilmu. Berbagai kekhawatiran ini diklaim atas munculnya berbagai fenomena yang didasari pada fondasi modernisasi dan perkembangan informasi teknologi. Dorangan atas perubahan tersebut juga merupakan taggung jawab manusia sebagai subjek dari perubahan itu sendiri.

John Naisbitt (dalam Bakhtiar Amsal) mengatakan bahwa era informasi menimbulkan gejala mabuk teknologi, yang ditandai dengan beberapa indikator, yaitu: (1) Masyarakat lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi. (2) masyarakat takut dan sekaligus memuja teknologi. (3) Masyarak mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu. (4) Masyarakat menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar. (5) Masyarakat mencintai teknologi dalam bentuk mainan. (6) Masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.

Dengan demikian perkembangan dunia informasi disatu sisi dan globalisasi disisi yang lain, tentu sadar atau tidak, suka ataupun tidak, akan membawa implikasi dan dampak   pada tatanan nilai, moral dan etika. Nilai, moral dan etika yang telah dicampakkan dalam perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan pada erah moderen yang menjadikan kita sangat kuwatir akan kehidupan moral dan etikan manusia saat ini.

PEMBAHASAN

  1.     Ilmu dalam Peradaban Zaman Kuno dan Abad Pertengahan
    1.       Ilmu dalam peradaban Yunani

Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi dewa bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Bakhtiar Amsal (2010 : 21)

Satu tradisi yang sangat penting terjadi, yakni aliran Pythagorean secara eksplisit menjadi bersifat religius. Pendiri aliran ini, berusaha menemukan kunci bagi harmoni universal, baik yang bersifat alamiah maupun sosial, dan personalitas bilangan, yang dilihat sebagai susunan titik-titik yang terbentuk, adalah bukti yang penting. Filsuf Eleatis yang muncul agak belakangan, Zeno dan Parmenides, menggunakan suatu analisis konseptual yang canggih untuk menyokong posisi filosofis yang menyatakan kesatuan eksistensi yang tak berubah. Ravertz R. Jerome (2009 : 8).

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales (624-546 SM) dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Sebagai contoh ucapan massyur Thales “Semuanya adalah air dan dunia penuh dengan dewa-dewa”. Setelah Thales Anaximandros (610-540 SM), ia menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya.

Selain Thales, Anaximandros, dan Heraklitos juga dikenal filosof-filosof Yunani yang terbesar sperti;  Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “komentar-­komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

Pada penghujung abad ke-15 SM. Penyelidikan semakin canggih namun masih berupa penjelasan spekulatif mengenai fenomena akal sehat ketimbang argumen yang benar-benar teknis tentang pengalaman-pengalaman buatan yang terkendali (controlled artificial experiences); yang baru muncul bersama Aristoteles. Aristoteles adalah guru Alexander Agung (Kaisar Yunani) yang mana pada masanya mengantarkan Yunani mengalami perkembangan Budaya yang sangat pesat. Kota-kota besar menjadi tempat persaingan para sarjana dan teks-teks klasik, dan beberapa di antara mereka mendirikan pusat-pusat belajar seperti Museum yang terdapat dikota-kota terencana Alexandria.

Pada zaman Helenistik (± 323 – 40 SM) perkembangan para flsuf tidak seperti pada zaman sebelumnya, namun pada zaman ini menghasilkan beberapa matematikawan yang besar (Euklides, Archimedes, dan Apollonius) dan para astronom (Hipparkhus). Studi-studi di bidang ilmu kedokteran dan fisiologi juga berkembang , dan selama periode ini Alkimia Eropa yang berasal dari alkimia yang dikembangkan oleh alkemisi Mesir, mencoba merasionalisasi perubahan kimiawi dengan teori-teori Aristoteles. Ravertz R. Jerome (2009 : 8).

 

  1. 2.      Perkembangan Ilmu Zaman Islam

Kebudayaan Islam paling relevan bagi ilmu Eropa. Bukan sekedar karena dekatnya antara Islam dengan Judaisme dan Kekristenan, melainkan juga karena adanya kontak kultural yang aktif antara negeri-negeri berbahasa Arab dengan Eropa Latin pada masa-masa yang menentukan. Kontak antara Islam dan Eropa Latin sebagian besar berlangsung melalui spanyol, dimana orang-orang Kristen dan Yahudi dapat bertindak sebagai perantara dan penerjemah. Ravertz R. Jerome (2009 : 21)

Pandangan filsafat Yunani seperti Plato dan Aristoteles sangat berpengaruh pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab eklektisisme. Al-Farabi, dalam hal ini, memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus bersepakat diantara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Bakhtiar Amsal (2010 : 35)

Dalam sejarah Islam kita mengenal nama-nama seperti Al-Mansur, Al-Ma’mun dan Harun Al-Rasyid yang memberikan perhatian yang teramat besar bagi perkembangan ilmu di dunia Islam. Baik pada masa Al-Mansur maupun masa Harun Al-Rasyid ( 786 – 809 ), upaya penerjemahan buku-buku kuno sangat pesat dilakukan hal ini dapat dilihat dari perintah Harun Al-Rasyid kepada Yuhanna ( Yahya ) Ibnu Masawayh ( 857 ) yang juga merupakan dokter istana untuk menerjemahkan buku-buku kuno mengenai kedokteran. Selain buku-buku kodekteran, juga terdapat buku-buku tentang astronomi, seperti Siddhanta; sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibn Ibrahim al-Fajari (806). Bakhtiar Amsal (2010 : 35).

Selain tokoh-tokoh diatas, juga terdapat beberapa tokoh lainnya seperti:

  1. a.      Al-Kindi (185 -252 H / 806-873 M)

Ia adalah Abu Yusuf bin Ishak, terkenal sebagai filosof arab: pernah menjadi Gubernur kufah pada pemerintahan al-Mahdi dan Harun Ar-rasyid .Dikalangan kaum muslimin , orang yang pertama memberikan pengertian filsafat dan lapangannya adalah Al-kindi, ia membagi filsafat 3 bagian :(1)Thibiyyat (ilmu fisika) sebagi sesuatu yang berbenda (2) al-ilm-ur-riyadli (matematika) terdiri dari ilmu hitung , tehnik, astronomi, dan musik, berhubungan dengan benda tapi punya wujud sendiri, dan yang tertinggi adalah (3) ilm ur-Rububiyyah (ilmu ketuhanan)/ tidak berhubungan dengan benda sama sekali. Ahmad hanafi yang dikutip dalam Liza (2006 : 26)

  1. b.    Ibnu Sina 340 H/980 M

Ibnu Sina, yang di Eropa lebih dikenal dengan nama Avicenna. Filsuf yang memiliki nama lengkap Abu Ali Al Hosain Ibn Abdullah Ibn Sina, dilahirkan pada tahun 340 H/980 M di Afsyana, suatu tempat di daerah Bukhara. Di tempat itulah ia menghafal Al­Qur’an dan mempelajari ilmu-ilmu agama serta astronomi sampai memasuki tahun kesepuluh dari kehidupannya. Ilmu kedokteran ia kuasai sebelum usianya mencapai 16 tahun. Sebelum mempelajari ilmu kedokteran, ia pun mempelajari matematika, fisika, logika, dan ilmu metafisika.

Karakteristik yang paling mendasar dari pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi dengan metode pemisahan dan pembedaan konsep secara tegas dan keras sehingga mampu mengusik temperamen modern. Ia mengemukakan secara berulang-ulang pada setiap kesempatan tentang pembuktian pemikirannya dalam hal dualisme tubuh dan akal, doktrin universal, serta teori tentang esensi dan eksistensi.

Keaslian pemikiran Ibnu Sina rupanya bukan saja menghadirkan keunikan sekaligus kekaguman dunia Islam abad pertengahan. Orde dominikian, bahkan masa Teolog Barat memperoleh pengaruh kuat dari pemikirannya. Perumusan kembali Teologi Katolik Roma yang digagas Albert Yang Agung dan terutama oleh Thomas Aquinas secara mendasar dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Sina. Selain itu, penerjemah De Anima, Gundisalvus menulis De Anima yang sebagian besar isinya merupakan pengambilan besar-besaran doktrin-doktrin Ibnu Sina. Demikian juga para filsuf dan ilmuwan abad pertengahan seperti Robert Grosseteste dan Roger Bacon yang menginternalisasi sebagaian besar pemikiran Ibnu Sina.

Kesibukan Ibnu Sina sebagai filsuf, dokter, sekaligus menteri pada pemerintahan Syamsuddaulah di Hamadzan tidak menghalanginya untuk menghadirkan karya-karya monumentalnya. Asy-Syifa adalah buku filsafat yang terpenting dan terbesar dari Ibnu Sina. Di dalamnya diulas secara mendalam tentang logika, fisika, matematika, dan metafisika ketuhanan. Naskah-naskahnya telah tersebar di perpustakaan Barat dan Timur. An-Najat adalah nama yang ia berikan untuk buku yang meringkas kajian-kajian yang dipaparkan Asy-Syifa. Buku diterbitkan di Roma pada tahun 1593 serta di Mesir tahun 1331.

Bagian metafisika dan fisika pernah dicetak dengan cetakan batu di Taheran. Pada tahun 1951 pemerintah Mesir dan Arab membentuk panitia penyunting ensiklopedi Asy-Syifa di Kairo yang sebagian besar telah diterbitkan. Pasal keenam dari bagian fisika yang merupakan landasan pembentukan psikologi modern diterbitkan lembaga keilmuan Cekoslovakia di Praha yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Bagian logika telah diterbitkan Kairo pada tahun 1954 dengan nama Al Burhan.

Di bidang kedokteran, ia melahirkan kitab Al Qonun yang disebut orang-orang Barat sebagai Canon of Medicine. Al Qonun sempat menjadi referensi utama di universitas­universitas Eropa sampai abad ke-17. Al Qonun juga pernah diterbitkan di Roma tahun 1593 M dan di India pada tahun 1323 M.

Buku terakhir yang paling baik menurut para filsuf dunia adalah Al Isyarat wat-Tanbihat yang pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892. Terakhir, buku ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1947.

Di tengah kesungguhan meramu pemikiran filsafat Islam yang unik di antara berbagai kesibukannya, Ibnu Sina jatuh sakit, dan pada akhirnya di usia yang ke-57 beliau wafat di Hamadzan pada tahun 428 H/1037 M. Ahmad hanafi yang dikutip dalam Liza (2006 : 26)

  1. Ibnu Rusydi (1126 M)

Abul al Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Rusydi, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusydi atau Averrous, adalah ilmuwan muslim yang sangat berpengaruh pada abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya. Ia adalah seorang filosof yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani.

Ibnu Rusydi dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah (Cordoba) dari sebuah keluarga bangsawan terkemuka. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Cordoba. Abad Ke 12 merupakan zaman keemasan perkembangan pengetahuan islam di bawah kekuasaan Dinasti Abasiah. Berpusat di Andalusia (spanyol) . Para penguasa muslim pada masa itu mendukung sekali perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan mereka sering memerintahkan para ilmuwan untuk menggali kembali warisan intelektual Yunani yang masih tersisa, sehingga nama-nama ilmuwan besar Yunani seperti Aristoteles, Plato, Phitagoras, ataupun Euclides dengan karya-karyanya masih tetap terpelihara sampai sekarang.

Selain sebagai seorang ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu-ilmu pasti, di samping sangat menguasai pula pengetahuan keislaman, khususnya dalam tafsir Al Qur’an dan Hadits ataupun dalam bidang hukum dan fikih. Bahkan karya terbesarnya dalam bidang kedokteran, yaitu Al Kuliyat Fil-Tibb atau (Hal-Hal yang Umum tentang Ilmu Pengobatan) telah menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran. .

Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusydi dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya untuk menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara tahun 1169-1195, Ibnu Rusydi menulis satu segi komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua komentarnya tergabung dalam sebuah versi Latin melengkapi karya Aristoteles. Komentar-komentarnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual. Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun melengkapi telaahnya dengan menggunanakan komentar-komentar klasik dari Themisius, Alexander of Aphiordisius, al Farabi dengan Falasifah-nya, dan komentar Ibnu Sina. Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi.

  1. d.      Al Ghazali

Filsafat menurutnya dapat diklasifikasikan dalam 4 bagian :

  1. Aritmetik, geometri yang sah dan dibolehkan
  2. Logika yang merupakan bagian dari teologi
  3. Ketuhanan yang mendiskusikan zat dan sifat-sifat ilahi, yang juga merupakan teologi
  4. Fisika yang bisa dibagi dalam 2 bagian: pertama yang terlibat dalam diskusi-diskusi yang bertentangan dengan syariah dan dengan demikian bahkan tak dapat dianggap sebagai ilmu , bagian lain mendiskusikan sifat-sifat tubuh, bagian 2 mirip dengan ilmu kedokteran , meskipun yang kedua lebih baik dari yang pertama, bagian fisika ini kurang berguna, sedang ilmu kedokteran sangat bermanfaat.

Selanjutnya Al-Ghazali membahas ilmu yang wajib kifayah (sesuatu yang wajib atas keseluruhan masyarakat selama kewajiban memenuhi kebutuhan sosial tersebut masih ada, tetapi setelah kewajiban itu telah dilaksanakan oleh sejumlah individu otomatis yang lain terbebas dari kewajiban itu. Beliau mengklasifikasikan ilmu kepada ”ilmu agama ” dan ”ilmu non agama” (ulum syar’i), beliau maksudkan kelompok ilmu yang di ajarkan lewat ajaran-ajaran Nabi dan wahyu, sedangkan yang lain adalah kelompok non agama. Ilmu non agama juga diklasifikasikan kepada yang terpuji (mahmud) ,dibolehkan (mubah) dan tercela (madzmum)

Al-Ghazali memasukkan sejarah ke dalam kategori ilmu-ilmu mubah, sihir kategori ilmu yang tercela, ilmu terpuji yang penting didalam kehidupan sehari-hari termasuk wajib kifayah, lebih dari itu hanya memberi manfaat tambahan kepada mereka yang mempelajarinya, ilmu tentang obat, matematika, kerajinan yang diperlukan oleh masyarakat, ada dalam kategori fardhu kifayah , Penyelidikan dalam kedokteran atau matematika dimasukan pada ketegori bermanfaat untuk orang yang mempelajarinya, tanpa keharusan mempelajarinya.

  1. 3.      Ilmu Dalam Peradaban Romawi

Menjelang berakhirnya periode pra-Kristen, kekaisaran Romawi mencapai dominasi atas seluruh dunia Mediterania. Romawi memunculkan paradoks bagi para sejarawan ilmu. Peradaban ini begitu canggih dan nyata-nyata modern dalam politik dan personalitasnya, begitu gemar mempelajari disiplin hukum, sangat progresif dalam teknologi-teknologi perang negara dan kesehatan publik, dengan akses langsung kepada kumpulan karya-karya ilmu Yunani, namun gagal menghasilkan ilmuan seorang pun. Memang ada dua ilmuan yang sangat besar yang hidup selama pemerintahan Marcus Aurelius pada abad kedua masehi, namun keduanya adalah bangsa Yunani. Galen dari Pergamon, mensintesiskan dan memajukan studi kedokteran, anatomi dan fisiologi. Ptolameus dari Alexandria, membawa astronomi matematis yang mendekati kesempurnaan klasik dan juga mencoba membawa pendekatan matematis dan ilmiah menuju ilmu sosial empiris yang paling awal, serta prediksi astrologis. Di satu sisi, orang Romawi sendiri menganggap ilmu sebagai hal yang cocok hanya untuk spekulasi yang bersifat sementara ( casual speculatif ). Di sisi lain, ilmu dianggap cocok hanya untuk teknik-teknik praktis. Ravertz R. Jerome ( 2009 : 14 )

Ada dua aliran terkemuka pada masa Romawi, yakni Stosisme dan Epikureanisme dan amanat yang ditawarkan keduanya untuk menjadi manusia bijaksana, yaitu mengagungkan pengunduran diri ( resignation ) dan mengajarkan kebahagiaan. Walaupun demikian, aliran Epikureanisme mampu menghasilkan sebuah maha karya ilmu yang spekulatif, De rerum natura (Tentang Hakekat Benda-benda), karya Lukretius. Ravertz R. Jerome ( 2009 : 15 )

Bakhtiar Amsal dalam bukunya Filsafat Ilmu, menuturkan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan di Roma yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu dikenal dengan masa Renaisans. Zaman dimana reformasi gereja Katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Zaman ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo da Vinci. Penemuan percetakan (± 1440 M) dan ditemukannya benua baru (1492 M)oleh Colombus memberikan dorongan lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu.

Buku-buku yang dicetak di abad ke-16 (dalam salinan moderennya) memberikan suatu sumber bukti yang layak untuk suatu bangunan ilmu. Pada permulaan abad ini pengetahuan masih belum berkembang dan sangat tergantung kepada ringkasan-ringkasan kacau dari zaman kuno dan sumber-sumber berbahasa Arab. Menjelang pertengahan abad ini muncul berbagai karya yang mengungguli orang-orang terbaik dari para pendahulunya. Di bidang astronomi ada De revolutionibus (1543) karya Polish Nicholaus Copernikus, sebuah maha karya teknis dan juga suatu telaah revoluioner di bidang kosmologi. Di bidang anatomi, Andreas Vesalius seorang bangsa Belgia menciptakan pendekatan baru kepada penelitian anatomis dan mengajarkannya dalam buku De fabrica (1543). Di bidang matematika, Gerolamo Cardano, seorang bangsa Italia, mengembangkan Aljabar (memberikan solusi umum atas persamaan kubik) dalam karyanya Ars magna (1545). Ravertz R. Jerome ( 2009 : 15 )

Selain Copernikus, Andreas Vesalius dan Gerolamo Cardano juga terdapat beberapa tokoh lainnya seperti, Tycho Brahe (1546-1601), Johannes Keplerr (1571-1630), Galileo (1546-1642), Napier (1550-1617), Desarque (1593-1662) serta tokoh-tokoh yang lainnya.

  1. 4.       Ilmu di Zaman Revolusi

Menjelang abad ke-18, mulailah revolusi industri yang mentransformasikan Eropa dari masyarakat agraris menjadi masyarakat perkotaan; pada akhir abad inilah terjadi Revolusi Prancis, saat mana ide-ide politik moderen dipraktekkan untuk pertama kali. Aktivitas ilmu mengalami perubahan-perubahan yang serupa. Pada masa ini pula fondasi-fondasi sosial dan kelembagaan menantikan matangnya ilmu di abad ke-19.

Salah satu tokoh yang cukup spektakuler dan oleh penulis buku 100 tokoh berpengaruh dunia menempatkan dia pada posisi ke-2 sesudah Nabi Muhammad, yakni Newton. Newton merupakan seorang pimpinan tempat pembuatan uang loga di kerajaan Inggris, ia tetap menekuni dalam bidang ilmu. Lahirnya teori grafitas, perhitungan kalkulus dan optika merupakan karya besar Newton. Teori grafitasi Newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas lurus, apakah matahari yang menarik bumi atau antara bumi dan matahari ada yang saling tarik menarik. Persangkaan tersebut kemudian dijadikan Newton sebagai titik tolak untuk spekulasi dan perhitungan-perhitungan. Selain gravitasi newton juga menelusuri bidang Calkulus dan Optika. Bakhtiar Amsal (2010 : 58)

Sebagaimana dalam revolusi Prancis, pada waktu yang sama, Filsafat Alam (Naturphilosophie) tumbuh subur di Jerman. Para penggemarnya, dipandu oleh penyair Goethe dan filsuf Schelling, mencela kekeringan dan ke-takberperasaannya ilmu matematis dan eksperimental tradisi Newtonia. Di inggris, pengaruh-pengaruh Naturphilosophie sebagian besar terlihat dengan jelas pada penyair-penyair Romantik. Pada akhirnya Naturphilosophie menjadi suatu pemikiran ortodoksi melalui para profesor universitas. Para pendiri ilmu eksperimental di Jerman pada tahun 1830-an dan 1840-an merasa jalannya dirintangi oleh mereka dan terjadilah pertarungan-pertarungan sengit. Walaupun para ilmuan menang, namun selama beberapa generasi mereka selalu dihantui oleh hantu Naturphilosophie, dan mereka bereaksi dengan mengekang semua tendensi-tendensi spekulatif yang paling keras, memperkuat sifat kering dan gaya tak manusiawi ilmu yang dipandang oleh para penyair dengan perasaan jijik. Ravertz R. Jerome ( 2009 : 58-60 )

  1. 5.        Perdebatan Filsafat dari Strukturalisme samapi Postmodernitas

Pada zaman modern filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak keseluruhan  filsafat modern itu mengambil warna pemikiran filsafat sufisme Yunani, sedikit pengecualian pada Kant. Paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah rasionalisme, idealisme, dan empirisme. Dan paham-paham yang merupakan pecahan dari aliran itu. Untuk memberikan fokus bahasan pada sub pokok ini saya mencoba untuk melakukan pendekatan beberapa tokoh pemikir filsafat strukturalisme dan Postmodernitas.

  1. a.      Biografi singkat filsuf Strukturalisme Awal

1)      Gaston Bachelard

Gaston Bachelard seorang ahli epistimologi, ahli filsafat, dan teoritis tentang imajinasi. Gaston Bachelard dilahirkan pada tahun 1884 di Bar-sur-Aube Prancis. Meninggal di Paris pada tahun 1962. Gaston Bachelard mengawali karirnya di Jawatan Pos (1903-1913), kemudian menjadi seorang guru besar fisika di College de Bar-sur-Aube dari tahun 1903. Pada usia 35 tahun Gaston Bachelard melanjutkan studinya dalam bidang filsafat dan berhasil memperoleh agregation pada tahun 1922 dan pada tahun 1928 ia menerbitkan tesis doktoralnya Essai sur la connaaisance approchee (Esai tentang Pengetahuan Pendekatan) yang dipertahankan pada tahun 1927 dan tesis pelengkapnya yang berjudul Etude sur l’evaluation d’un probleme physique, La propagation thermique dans le solides (Telaah Evolusi suatu masalah dalam Fisika : Hantaran Panas dalam Bednda Padat), dengan kemampuan yang dimilikinya, Gaston Bachelard akhirnya diberi tugas untuk menangani masalah sejarah filsafat ilmu di Sorbonne sampai tahun 1954.

2)      Mikhail Bakhtin

Mikhail Bakhtin lahir pada bulan November 1895 dan ia belajar tentang sastra klasik dan filologi di Universitas Petrograd pada tahun 1918. Karena alasan-alasan yang bersifat politis Ia menjadi profesor di sekolah Guru Negeri di daerah Mordovia pada tahun (1936-1961). Tahun 1960-an, Bakhtian sudah menjadi seorang tokoh pujaan Rusia, karyanya tentang Dostoyeveski yang dibuat pada tahun 1929 ditemukannya kembali dan bukunya tentang Rabelais_ pada awalnya dibuat sebagai tesis doktor pada tahun 1940-an untuk pertama kali diterbitkan di Uni Soviet pada tahun 1965. Tahun 1970-an Bakhtin mengerjakan sejumlah proyek salah satunya tentang landasan filosofis dari ilmu-ilmu humaniora yang tidak terselesaikan sampai Ia meninggal pada bulan Maret 1975.

3)      Jean Cavailles

Jean Cavailles lahir pada tahun 1903. Pada tahun 1927 Jean Cavailles berhasil menyelesaikan Agregation  dalam bidang filsafat dan pada tahun 1929 Ia menghadiri kuliah-kuliah  Husserl tentang Deskartes di Universitas Sorbonne. Pada tahun 1930-an Jean Cavailles berkesempatan belajar pada sejumlah universitas di Jerman, termasuk di Universitas Freiburg dan bertemu dengan Husserl pada tahun 1931. Setelah mengajar pada sebuah Lycee di Amiens. Cavailles di angkat menjadi dosen mata kuliah logika dan filsafat umum di fakultas sastra Universitas Starsbourg. Di tempat inilah ia menyelesaikan tesis Doktornya dalam bidang matematika tentang metode aksiomatik dan formalisme, dengan tesis minor tentang teori himpunan. Pada tahun 1939 Cavailles diikutsertakan dalam mobilisasi pertaman sebagai perwira corps france (pasukan nonreguler) dan kemudian sebagai perwira sandi. Saat ditangkap pada bulan Juni 1940. Tahun 1942, Cavailles di tangkap polisi Prancis karena ikut terlibat sebagai pendiri Resistance, Liberation –sud dan kemudian dimasukkan kedalam tahanan. Selama masa tahanan di Perancis Selatan, Cavailles menulis karya Sur la logikue yang kemudian menjadi karya filosofis utamanya

4)      Sigmund Freud

Freud lahir pada tahun 1856 di Freiburg. Ketika Freud berusia 4 tahun, keluarganya pindah ke Wina tempat Freud hidup dan bekerja sampai tahun 1938, sampai saat ia melarikan diri ke Inggris setelah terjadinya Anschluss. Pada tahun 1881 Freud mendapatkan gelar doktornya dari universitas Wina, dan pada tahun 1885 memenangkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Paris. Disana Freud belajar dibawah pengawasan Jean Martin Charcot di Salpetriere. Setelah Freud kembali ke-Wina pada tahun 1886, ia membuka praktek sebagai dokter, dan akhirnya ia meninggal di London pada tahun 1939. Salah satu karya Freud adalah The Interpretation of Dreams yang mengulas tentang analisis diri.

Selain beberapa tokoh diatas, masih terdapat beberapa tokoh lainnya seperti Marcel Mauss (1872-1950), dan Maurice Merleau Ponty.

  1. Biografi singkat tokoh filsuf strukturalisme

Ada dua pokok struktural yang menonjol : (1) pengakuan (terkecuali Comsky) bahwa hubungan diferensial adalah kunci untuk bisa memahami kultur dan masyarakat; dan (2) sebagai akibatnya, struktur itu tidak datang sebelum direalisasikannya hubungan-hubungan ini. Saussure, meskipun ia tidak menyadari implikasi penuh dari yang dikemukakannya, mengilhami pandangan bahwa upaya menitikberatkan praktek-praktek material adalah cara untuk bisa bertemu dengan makna “struktur” yang penuh dan sangat bersifat anti esensialis. John Lechte (2001 : 65). Ada beberapa tokoh filsuf strukturalisme seperti :

1)      Louis Althusser

Althusser lahir di Aljazair pada tahun 1918 dan meninggal dalam penjara di kota Paris pada tahun 1990 atas tuduhan telah membunuh istrinya. Pada tahun 1939 ia diterima sebagai calon agregatian dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure (rue d’Ulm). Akan tetapi terjadi perang dunia II dan Althusser di tawan tentara Jerman sehingga Dia tidak bisa menyelesaikan agregation-nya sampai tahun 1948. Setelah itu Ia diangkat menjadi caiman di rue d’Ulm, jabatan yang memberinya kesempatan untuk mempersiapkan para calon peserta agregation. Salah satu karya terbesar Althusser adalah Reading Capital.

2)       Emile Benveniste

Emile Benveniste lahir di Kairo pada tahun 1902 dan meninggal pada tahun 1976. Benveniste adalah salah seorang profesor linguistik di College de France dari tahun 1937 sampai tahun 1969. Benveniste mengikuti pendidikan di Sorbonne di bawah bimbingan Antoine Meillet, murid dari Ferdinand de Saussure, sejak tahun 1930-an, Benveniste

Meneruskan minat Saussure dalam bentuk-bentuk linguistik Indo-Eropa, khususnya tentang status nama. Benveniste Tidak perna mengklaim bahwa pikiran dan bahasa itu identik, Benveniste tidak menerima pandangan Hjelmslev yang berpandangan bahwa pikiran itu sepenuhnya terpisah dari bahasa, sepertiyang dikatakan Benveniste “upaya penangkapan kerangka pikiran akan berjumpa dengan kategori-kategori bahasawi”.

3)      Michel Serres

Serres lahir pada tahun 1930 di Agen, Prancis. Pada tahun 1949 Ia memasuki akademi angkatan laut, dan kemudian pada tahun 1952 memasuki Ecole Normale Superieure (rue d’Ulm). Pada tahun 1955 Ia mendapatkan gelar agregation-nya dalam bidang filsafat, dan dari tahun 1956 sampai tahun 1958 ia bertugas sebagai perwira diberbagai kapal dalam dunia maritim Prancis. Pada tahun 1968 Serres memperoleh gelar doktor dengan tesisnya tentang filsafat Leibniz. Pada tahun 1960-an Serres mengajar di Universitas Clermont-Ferrand dan Vincennes dan kemudian diangkat menjadi dosen sejarah ilmu di Sorbonne. Serres juga menjadi profesor penuh di Universitas Stanford sejak tahun 1984, dan diangkat menjadi anggota Akademi Perancis pada tahun 1990.

Selain Althusser, Benveniste dan  Serres Tokoh-tokoh  filsuf strukturalisme juga seperti Christian Metz, Claude Levi-Strauss, Jacques Lacan, Roman Jakobson dan Gerard Gennete serta filsuf yang lainnya.

  1. Biografi singkat tokoh filsuf postmodernitas

Modernitas bisa dihubungkan dengan industrialisasi. Meskipun demikian, para pemikir lebih tertarik pada perubahan yang diusulkan. Modernitas adalah perubahan yang diakibatkan pada kesadaran. Posmodernitas berupaya mempertanyakan suatu epistemologi modernis yang didasarkan atas pembedaan subjek dan objek secara jelas. Sebenarnya secara garis besar modernitas bisa dipahami sebagai pengutamaan dan pemahaman tentang kesadaran sebagai suatu kekuatan tersendiri. Pernyataan Baudelaire bahwa modernitas itu adalah “yang bersifat sementara, mengembang dan kontingen. Selain itu, hal lain yang terkait dalam membicarakan postmodernitas adalah “adanya ketidak percayaan terhadap metanarasi (Lyotard) yang berarti tidak adanya penjelasan global tentang perilaku yang bisa dipercaya dalam zaman rasionalitas yang bermuatan tujuan. John Lechte (2001 : 307). Tokoh-tokoh filsuf modernitas yang sangat berpengaruh adalah :

1)      Marguerite Duras

Marguerite Duras lahir dengan nama Marguerite Donnadieu pada tahun 1914 di Gia-Dinh dekat Saigon, Cochin-Cina. (sekarang fietnam selatan). Ayah Duras adalah seorang guru matematika yang berasal dari sebuah keluarga petani miskin di perancis utara. Pada tahun 1932-1933, duras kembali ke-Perancis dan belajar matematika, kemudian ditinggalkan dan Ia belajar tentang politik dan hukum. Antara tahun 1940 dan 1942, Duras menerbitkan karya pertamanya yang digarap bersama Philippe Roques, L ‘Empire francais, tetapi tetapi novel pertamanya yang ditulis dengan nama keluarga Donnadieu yang berjudul La Famille Taneran ditolak Gallimard. Gaya penulisan Duras, di samping jelas bersifat tunggal, juga sering membangkitkan realisme eksperimental yang ada pada Nouveau Roman. Masi banyak karya yang dihasilkan oleh Duras dan tidak sempat dijelaskan secara gamblang.

2)      Franz Kafka

Franz Kafka lahirkan di prahara pada tahun 1883. Dari tahun 1893 sampai 1901, kafka belajar disebuah gimnasium Jerman, dan kemudian Ia belajar yurisprudensi di Universitas Karl-Ferdinand. Pada tahun 1906 ia memperoleh doktor hukumnya. Pada tahun 1902 Kafka mulai mengenal lingkungan kritik sastra Praha melalui kritikus dan novelis Max Brod yang membawanya kedalam lingkungan itu. Pada tahun 1909 cerita pendek kafka diterima oleh sebuah jurnal di Praha dan Ia membacakan bab demi bab novelnya. Dalam karyanya Kafka dilukiskan nihilisme masyarakat tanpa Tuhan, dominasi birokrasi yang bersifat hiper-rasional yang merangkap orang-orang tak berdosa dalam jaringnya, dan akhir semua idealisme.

Selain Kafka dan Duras juga terdapat beberapa filsuf lain seperti Jean Francois Lyotard,  dan Jean Baudrillard.

Daftar  Pustaka

Bakhtiar Amsal; Filsafat Ilmu; Raja Grafindo Persada Jakarta, 2010

http//www.foxitsovtware.com; dr. Liza; Pengantar Filsafat dan Ilmu; Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon 2006;

Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu, Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan; Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2009

John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas; Kanisius Yogyakarta 2001

Louis O. Kattsof, Pengantar Filsafat di Terjemahkan Oleh Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Bandung, 1998

Uyoh Sadulloh; Pengantar Filsafat Pendidikan; Alfabeta Bandung, 2003

ANALISIS TEORI-TEORI BELAJAR DAN IMPLEMENTASINYA

 

Oleh :

Asyhari A. Usman

Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak melakukan kegiatan yang sebenarnya merupakan gejalah belajar, dalam arti mustahillah dapat melakukan kegiatan itu, kalau tidak belajar terlebih dahulu, Winken dalam Abdi (2009: 11) menyatakan, bahwa terlalu banyak hal yang kita lakukan jika ingin sebutkan satu-persatu, namun secara spontannitas kegiatan yang dilakukan adalah bagian dari belajar.

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Sejalan dengan itu, Slameto (1990:2) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Kimble dalam Hergenhahn dan Olson (2010 : 2), mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktek yang diperkuat).  Menurut Syah (2003:68 ) menyatakan bahwa belajar sebagai tahap perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pembelajaran dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sedangkan menurut Slameto   (2003: 2 ) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

Morgan dalam porwanto (1994:40), menyebutkan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang menetap dalam tingka laku yang terjadi  dari hasil pengalaman  dan latihan. Pengertian belajar lebih menekankan pada kegiatan mental psikologi sehingga perubahan yang terjadi bersifat relatif parmanen. Belajar adalah suatu proses dimana seseorang mengangkat perubahan tingka laku sebagai hasil belajar dan latihan. Dalam defenisi tersebut mengendung pengertian bahwa faktor latihan memegang peranan penting dalam perubahan tingka laku.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Winataputra (2000:24 ) Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabilah pikiran dan perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diawali oleh orang lain, akan tetapi terasa oleh yang bersangkutan ( organ yang sedang belajar itu ). Kemudian belajar yang dikemukakan oleh Anurrahman (2009:33 ) merupakan kegiatan penting bagi semua orang, termasuk didalamnya belajar bagaimanan  seharusnya belajar. Sedangkan menurut Mujiono dan Dimyati ( 2002:18 ) belajar merupakan proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Selanjutnya, Ahmadi (2002:279) mengemukakan  bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuham atau perubahan dalam diri seseorang   yang dinyatakan dalam cara-cara tingkah laku atau berkat pengalaman dan latihan.

Dalam belajar diperlukan kesiapan intelektual. Kesiapan intelektual disini mencangkup belajar itu dilakukan melalui tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan kesiapan intelektual anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne dalam Hudoyo (1998:25) bahwa belajar itu melalui tahapan dan jenjang latihan. Dan tahapan-tahapan tersebut selalu berkaitan satu dengan yang lain. Di jelaskan pula bahwa tahapan belajar yang lebih tinggi didasarkan pada tahapan belajar yang lebih rendah.

Proses belajar mengajar merupakan ranngkaian kegiatan komunikasi antara manusia yakni orang yang belajar (siswa) dan orang yang mengajar (guru). Komunikasi antara siswa dan guru dipengaruhi oleh objek lainnya. Roestiyah (1994:39) menyatakan bahwa komponen-komponen itu antara lain: tujuan belajar, materi pelajaran, metode mengajar, sumber belajar, media untuk belajar, manajemen interaksi belajar mengajar, evaluasi belajar, anak yang belajar, guru yang mengajar dan pengembangan dalam proses belajar.

PEMBAHASAN

Kegiatan pembelajaran dikelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, serta penggunaan metode dan strategi pembelajaran. Namun kesemunya itu juga akan terwujud apabila partisipasi dari berbagai aspek juga didukung, terutama tingkat keragaman peserta didik yang dapat dibilang cukup heterogen. Implementasi sifat heterogen tersebut juga dipengaruhi oleh kemampuan daya serap informasi yang diterima oleh peserta didik. Satu hal yang menarik tingkat keragaman dan cara menerima informasi, mesti menjadi tolak ukur dalam mentrasfer pengetahuan.

Sejalan dengan tingkat keragaman dalam bejar, mendorong banyak kalangan untuk mempelajari berbagai bentuk kemampuan manusia untuk menyerap suatu informasi. Hal ini yang kemudian menyebabkan bermunculan berbagai teori belajar berdasarkan kondisi yang dipahami oleh sipemikir tersebut. Dalam upaya menghindari kesalahan penafsiran dan mencari khasana informasi dan pengetahuan tentang teori belajar guna menyiapkan tenaga pendidik yang lebih profesional.

 

A.    Teori-Teori Belajar

1.      Teori-Teori Fungsionalistik Dominan

a.      Mengenal Identitas Teori Fungsionalistik

Paradigma teori fungsianalitik adalah mencerminkan pengaruh dari Darwinisme, karena ia menekankan pada hubungan antara belajar dengan penyesuaian diri dengan lingkungan. Tokoh yang paling dikenal dalam teori fungsionalistik adalah Thorndike yang merumuskan teorinya tentang kaidah efek. Menurut Thorndike bentuk paling dasar dari proses belajar adalah trial-and-error learning (belajar dengan ujicoba), atau yang disebutnya sebagai selecting and connecting (pemilihan dan pengaitan).

Hergenhahn dan Olson dalam buku Theories of Learning menyebutkan bahwa Thorndike mencatat penurunan gradual dalam waktu untuk mendapatkan solusi sebagai fungsi percobaan seksesif, Thorndike menyimpulkan bahwa belajar bersifat incremental (inkremental/bertahap), bukan insightful (langsung ke pengertian). Dengan kata lain, belajar dilakukan dengan langkah-langkah kecil yang sistematis bukan langsung melompat ke pengertian mendalam.

b.      Penjajakan Paradigma Tokoh Fungsionalistik

1)      Edwar Lee Thorndike

Edwar Lee Thorndike lahir di Williamsburg pada tahun 1874. Thorndike mengatakan belum pernah mendengar atau melihat kata psikologi sampai dia masuk Wesleyan University. Pada saat itu dia membaca karya William James, Principles of Psychology (1890), dan amat tertarik dengannya. Selanjutnya Thorndike masuk Harvard dan mengikuti pelajaran James. Pendidikan Thorndike tidak kemudian berhenti disini, namun dengan bermodalkan beasiswa yang dia peroleh, kemudian melanjutkan di Columbia di bawah bimbingan James McKeen Cattell.

Riset yang dilakukan Thorndike menggunakan ayam sampai terakhir kucing. Dari hasil risetnya Thorndike kemudian meringkasnya dalam disertasi doktornya, yang berjudul “ Animal Intellegence : An Experimental Study of the Associative Process in Animals,” yang dipublikasikannya pada tahun 1898 dan kemudian kembangkan dan dipublikasikan kembali dalam bentuk buku berjudul Animal Intellegence (1911). Ide dasar yang dikemukakan dalam dokumen ini mendasari semua tulisan Thorndike dan hampir semua teori belajar.

Slavin dalam buku Psikologi Pendidikan Teori dan Aplikasi memberikan gambaran tentang eksperimen Thorndike adalah pengembangan dari kaida efek, yang menyatakan bahwa apabila tindakan diikuti oleh perubahan yang memuaskan dalam lingkungan tersebut, kemungkinan tindakan itu akan diulangi dalam situasi yang sama akan meningkat. Namun apabila perilaku diikuti oleh perubahan yang tidak akan diulangi akan menurun. Dengan demikian, Thorndike memperlihatkan bahwa konsekuensi perilaku seseorang saat ini memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan perilaku seseorang pada masa mendatang.     

2)      Burrhus Frederic Skinner

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) lahir di Susquehanna, Pennsylvania. Dia meraih gelar master pada 1930 dan Ph.D pada 1931 dari Harvard University. Gelar B.A. diperoleh dari Hamilton College, New York, dimana dia mengambil jurusan Sastra Inggris. Tahun 1936 dan 1945, Skinner mengajar Psikologi di University of Minnesota dan menghasilkan salah satu bukunya yang berjudul, The Behavior of Organisme (1938).

Karya Skinner terfokus pada penempatan subjek dalam situasi yang dikendalikan dan pada pengamatan perubahan perilaku mereka yang dihasilkan oleh perubahan sistematis konsekuensi perilaku mereka. Skinner terkenal karena dia mengembangkan dan menggunakan alat yang lazim disebut sebagai kotak Skinner. Kotak Skinner berisi alat yang sangat sederhana untuk mempelajari perilaku binatang, biasanya tikus dan merpati. Robert E. Slavin ( 2008 : 183)

Skinner membedakan dua jenis perilaku : respondent behavior (perilaku responden) yang ditimbulkan oleh suatu stimulus yang dikenali, dan operant behavior (perilaku operan), yang tidak diakibatkan oleh stimulus yang dikenal tetapi dilakukan sendiri oleh organisme. Respons yang tidak terkondisikan (bersyarat) atau unconditioned response adalah contoh dari perilaku responden karena respons ini ditimbulkan oleh stimuli yang tak terkondisikan. Hergenhann dan Olson (2010 : 84).

Kaitannya dengan belajar Skinner mengatakan bahwa belajar akan berlangsung sangat efektif apabila : (1) informasi yang akan dipelajari disajikan secara bertahap; (2) pembelajar segera diberi umpan balik (feedback) mengenai akurasi pembelajaran mereka (yakni setelah belajar mereka segera diberi tahu apakah mereka sudah memahami informasi dengan benar atau tidak. Dan (3) pembelajar mampu belajar dengan caranya sendiri. Hergenhann dan Olson (2010 : 127-128).

3)      Clark Leonard Hull

Clark Leonard Hull (1884-1952) meraih gelar Ph.D dari University of Wiskonsin tahun 1918, Hull mengajar di Wiskonsin pada tahun 1916 sampai 1929. Pada tahun 1929 dia pindah ke Yale dan tetap disana sampai meninggal. Perhatian pertama Hull adalah tes bakat atau kecakapan. Dia mengumpulkan materi tentang tes bakat saat mengajar topik itu di University of Wiskonsin, dan dia mempublikasikan buku berjudul Aptitude Testing tahun 1928. Perhatian kedua Hull adalah hipnosis, dan setelah mempelajari proses hipnotik, dia menulis buku berjudul Hypnosis and Suggestibility (1933). Perhatian ketiganya adalah studi proses belajar. Buku utama pertama Hull mengenai belajar, Principles of Behavior (1943)

Teori Hull mengandung struktur postulat dan teorema yang logis mirip seperti geometri Euclid. Postulat-postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku yang tidak dapat diverifikasi secara langsung, meskipun teorema yang secara logis berasal dari postulat itu dapat diuji. Dalam teorinya tahun 1943, Hull membahas besaran penguatan sebagai variabel belajar: semakin besar jumlah penguatan, semakin besar jumlah reduksi dorongan, dan karenanya semakin besar peningkatan dalam sHR. teori Hull membahas sejumlah fenomena behavioral dan kognitif. Cakupan teorinya yang dipadukan dengan definisi variabelnya yang detail, mengundang banyak penelitian empiris. Hergenhann dan Olson (2010 : 142 dan 157).         

2.      Teori-Teori Asosiasionistik Dominan

a.      Pengenalan Awal Teori Asosiasionistik

Teori asosianistik mempelajari proses belajar dalam term hukum asosiasi. Paradigma ini berasal dari Aristoteles dan dipertahankan serta dielaborasi oleh Locke, Berkeley, dan Hume. Untuk memahami monumendasar pemikiran tentang belajar dari Aristoteles, sebagaimana digambarkan oleh Hergenhann dan Olson dalam buku Theories of Learning, “Aristoteles menganggap informasi indrawi adalah basis dari semua pengetahuan. Dengan sikapnya yang bersifat empiris, Aristoteles menyusun banyak fakta tentang fenomena fisik dan biologi. Tetapi nalar tidak diabaikan oleh Aristoteles. Dia menganggap bahwa kesan indra adalah awal dari pengetahuan_pikiran kemudian harus merenungi kesan ini untuk menemukan hukum-hukum yang ada didalamnya.

Aristoteles merumuskan laws of association (hukum asosiasi). Dia mengatakan bahwa pengalaman atau ingatan akan satu objek cenderung menimbulkan ingatan akan hal-hal yang serupa dengan objek itu (hukum kesamaan), ingatan akan hal-hal yang berlawanan (hukum kontras) atau ingatan tentang hal-hal yang pada awalnya dialami bersama dengan objek tersebut (hukum kontiguitas). Aristoteles juga mengemukakan bahwa semakin sering dua hal dialami bersama, semakin besar kemungkinan bahwa ingatan akal hal yang satu akan menimbulkan ingatan akan hal yang satunya lagi.

Kaitan dengan pengaruh besar Aristoteles terhadap teori belajar, Waimer (1973 dalam Hergenhann dan Olson menulis,

Jika direnungkan….. doktrin Aristoteles berada di jantung pemikiran kontemporer dalam bidang epistimologi dan psikologi belajar. Sentralitas asosianisme sebagai mekanisme pikiran juga dikenal luas sehingga hampir seluruh teori belajar abad ini didasarkan pada penjelasannya tentang prinsip asosiatif. (h. 34)

Salah satu prinsip penting dari asosiasi adalah hukum frekuensi, yang menjadi fokus riset Ebbinghaus. Hukum frekwensi menyatakan bahwa semakin sering suatu pengalaman terjadi, semakin mudah pengalaman itu diingat atau dilakukan lagi. Dengan kata lain memori mendapat kekuatan melalui repetisi. Hergenhann dan Olson (2010 : 44).

  

b.      Penjajakan Paradigma Tokoh Asosiasionistik

1)      Ivan Petrovich Pavlov

Pavlov lahir di Rusia pada tahun 1849 dan meninggal pada tahun 1936. Pavlov pada mulanya belajar untuk menjadi pendeta, namun kemudian berubah pikiran dan berkonsentrasi untuk mempelajari fisiologi hingga menghantarkan Pavlov untuk meraih hadia Nobel pada tahun 1904. Pada tahun 1941 bukunya yang berjudul Conditioned Reflexes and Psycbiatry diterbitkan.

ber Hergenhann dan Olson dalam buku Theories of Learning mengutip pernyataan Pavlov sebagai berikut;

Apakah ada dasar …. Untuk membedakan antara apa yang disebut oleh fisiologi sebagai koneksi temporer dengan apa yang oleh psikologi disebut asosiasi? Keduanya sama; keduanya berpadu dan saling menyerap. Psikolog tampaknya mengakui hal ini sebab mereka (setidaknya sebagian dari mereka) telah menyatakan bahwa eksperimen dengan refleks yang dikondisikan telah menghasilkan dasar yang kukuh untuk psikologi asosiatif, yakni psikologi yang menganggap asosiasi sebagai basis dari aktivitas psikis (h. 195).   

Fungsi penguatan berbeda untuk pengkondisian klasik dan instrumental. Untuk pengkondisian instrumental, penguatan dihadirkan kepada hewan setelah respons dibuat. Dua situasi ini dapat digambarkan sebagai berikut :

 

1)      Edwin Ray Guthrie

Edwin Ray Guthrie lahir tahun 1886 dan meninggal tahun 1959. Ray Guthrie adalah profesor psikologi di University of Washington pada tahun 1914 sampai pensiun pada tahu 1956. Karya dasar Ray Guthrie adalah The Psychology of Learning, yang dipublikasikan tahun 1935 dan direvisi tahun 1952. Ray Guthrie sesungguhnya bukan tokoh eksperimentalis namun dia memiliki pandangan dan orientasi yang eksperimental. Ray Guthrie hanya melakukan satu percobaan yang terkait dengan teori belajar bersama Horton. Tetapi dia jelas seorang behavioris. Dia bahkan menganggap teoritis seperti Thordike, Skinner, Hull, Pavlov, dan Watson masih sangat subjektif dan dengan menerapkan hukum parsimoni secara hati-hati akan dimungkinkan untuk menjelaskan semua fenomena belajar dengan menggunakan satu prinsip (Hukum Asosiasi Aristoteles). Karena alasan inilah kami menempatkan teori behavioristik Ray Guthrie dalam paradigma asosiasionistik. Hergenhann dan Olson (2010 : 225-226)

Ray Guthrie (1952) berpendapat bahwa kaidah yang dikemukakan oleh para teoritis seperti Thorndike dan Pavlov adalah terlalu ruwet dan tak perlu, dan sebagai penggantinya dia mengusulkan satu hukum belajar, law of contiguity (hukum kontiguitas), yang dinyatakan sebagai berikut “gelombang konfirmasi” atau penguatan melakukan atau efek menyenangkan” hal ini bisa di bilang hukum kontiguitas adalah jika Anda melakukan sesuatu dalam situasi tertentu, pada waktu lain saat anda dalam situasi itu Anda cenderung akan melakukan hal yang sama. Hergenhann dan Olson (2010 : 226)  

2)      Wiliam Kaye Estes

Wiliam Kaye Estes lahir tahun 1919, Estes mengawali karir profesionalnya di University of Indiana. Dia pindah ke Stanford University dan kemudian ke Rockefeller University, dan mengahiri karirnya di Harvard dimana dia mendapat gelar profesor emeritus. Tahun 1997 Estes dianugrahi Medal of Science, yang merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh National Science Foundation. Penghargaan ini diberikan berkat jasannya “bagi teori kognisi dan belajar fundamental yang mengubah bidang psikologi eksperimental dan memicu perkembangan ilmu kognitif kuantitatif.

Dari sekian eksperimen yang dilakun, Estes berpendapat bahwa elemn stimulus yang dijadikan sampel pada satu percobaan tertentu dikondisikan dengan cara all-or-none; namun karena hanya ada sedikit yang dijadikan sampel pada satu percobaan, belajar berlangsung secara inkremental atau gradual. Probabilitas munculnya respon A1 berubah secara gradual dari satu percobaan ke percobaan selanjutnya dan jika jumlah total elemen stimulus yang ada dalam eksperimen cukup banyak, sifay all-or-none tidak dapat dideteksi. Hergenhann dan Olson (2010 : 259)  

Estes memandang teori sampling stimulus (SST) sebagai perluasan matematis dari teori transfer elemen identik Thorndike. Yakni, teori itu dikembangkan untuk membuat prediksi yang tepat tentang transfer training dari satu situasi ke-situasi yang lain, berdasarkan elemen-elemen stimulus yang sama untuk keduanya. Dalam SST, belajar terjadi dengan cara sekaligus atau tidak sama sekali (all-or-none) dan hanya dibutuhkan kontiguitas antara stimulus dan respons tertentu. Hergenhann dan Olson (2010 : 265)      

 

1.      Teori-Teori Kognitif Dominan

a.      Pengenalan Awal Teori Kognitif

Penekanan utama dari teori kognitif adalah sifat kognitif dari belajar. Paradigma kognitif berasal dari Plato dan sampai sekarang melalui Deskartes, Kant dan para psikologi fakultas. Pada dasarnya teori kognitif dominan adalah implementasi teori belajar dari aliran Gestalt. Sebagaiman yang disampaikan oleh  Hergenhann dan Olson “ belajar menurut Gestalt adalah fenomena kognitif. Organisme mulai melihat solusi setelah memikirkan problem. Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme mendapatkan wawasan (insigt) tentang solusi problem. Problem hanya dapat eksis hanya dalam dua keadaan : terpecahkan atau tak terpecahkan. Tidak ada keadaan solusi parsial diantara dua keadaan itu. Gestaltis percaya bahwa solusi itu didapatkan atau tidak sama sekali; belajar menurut mereka adalah bersifat diskontinu.

Gestalt adalah kata Jerman yang berarti Pola atau konfigurasi. Aliran ini berpendapat bahwa kita mengalami dunia secara menyeluruh dan bermakna. Kita tidak melihat stimulus yang terpisah-pisah namun stimulus itu dikelompokkan bersama (diorganisasikan) ke dalam satu konfigurasi yang bermakna. Perhatian utama psikologi Gestalt adalah pada fenome perseptual.  

   

b.      Jejak Paradigma tokoh kognitif

1.      Max Wertheimer

Max Wertheimer (1880-1943) dianggap sebagai pendiri psikologi Gestaalt, sejak awal dia sudah bekerja sama dengan dua orang yang dianggap juga sebagai bapak pendiri, yakni Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1886-1941). Kohler dan Koffka berpartisipasi dalam eksperimen pertama yang dilakukan oleh Wertheimer. Meskipun ketiganya memberi konstribusi sendiri-sendiri.

Pemikiran awal Gestalt dimulai dari pengalaman Wertheimer ketika disatu perjalanan ke Rhineland yang menggunakan jasa kereta api. Dia mendapat gagasan bahwa jika dua cahaya berkedip-kedip (hidup dan mati) pada tingkat tertentu, cahaya itu akan memberi kesan bagi pengamatnya bahwa satu cahaya itu akan bergerak maju dan mundur. Wertheimer memperdalam gagasannya yang muncul dengan menyimpulkan bahwa jika mata melihat stimuli dengan cara tertentu, penglihatan itu akan memberi ilusi gerakan (Phi phenomenon). Kata Phi phenomenon mengandung pengertian fenomena ini berbeda dari elemen yang menyebabkannya.

 

2.      Kurt Lewin

Kurt Lewin (1890-1947), salah satu tokoh psikologi Gestalt awal, mengembangkan teori motivasi berdasarkan teori medan. Lewin mengatakan bahwa perilaku manusia pada waktu tertentu ditentukan oleh jumlah total dari fakta psikologis pada waktu tertentu. Menurutnya faktor psikologis adalah segala sesuatu yang disadari manusia, seperti rasa lapar, ingatan masa lalumemiliki sejumlah uang berada ditempat tertentu atau didepan orang. Live space (ruang kehidupan) seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis. Beberapa fakta ini akan menimbulkan pengaruh positif pada perilaku seseorang, dan sebagian lainnya menimbulkan efek negatif. Totalitas dari kejadian itulah yang akan menentukan perilaku seseorang pada waktu tertentu.     

3.      Wolfgang Kohler

Karya paling tentang belajar oleh anggota aliran Gestalt adalah karya Kohler antara 1913 dan 1917 di University of Berlin Anthropoid Station di Tenerife, salah satu kepulauan Canary. Kohler (1925) meringkas temuannya dalam The Mentality of Apes, saat di Tenerife dia juga mempelajari kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki ayam, meskipun karya ini jarang disebut.

Untuk menguji gagasan tentang belajar, Kohler menggunakan sejumlah eksperimen kreatif. Satu percobaan adalah problem memecahkan jalan memutar di mana hewan dapat melihat tujuannya dengan jelas tetapi tidak bisa mencapainya secara langsung. Hewan itu harus berjalan memutar dan mengambil jalur lain untuk mendapatkan objek yang diinginkannya.  

2.      Teori Neurofisiologis Dominan

a.      Gmbaran Dasar Teori Neurofisiologi

Teori neurofisiologi berusaha mengisolasi korelasi neorofisiologis dari hal-hal seperti belajar, persepsi, pemikiran dan kecerdasan. Paradigma ini merepresentasikan manifestasi rangkaian penelitian yang diawali dengan pemisahan tubuh dan pikiran oleh Deskartes. Tetapi tujuan neurofisiologis saat ini adalah manyatukan kembali proses fisiologis dan mental. Hergenhann dan Olson  mencoba menggabrakan, bagaimana dan seperti apa Deskartes berpikir tentang belajar. 

Rene deskartes berusaha mengkaji semua penelitian filsafat dengan sikap ragu. “saya bisa meragukan segalanya,” katanya, kecuali satu hal, yakni fakta bahwa saya itu ragu. Namun ketika saya ragu, saya berpikir; dan saat saya berpikir; karenanya saya ada.(h.36)

Deskartes memandang tubuh manusia sebagai mesin yang gerak geriknya dapat diprediksi; dalam hal ini manusia sama dengan binatang. Tetapi pikiran adalah atribut khas manusia. Pikiran adalah bebas dan dapat menentukan tindakan tubuh. Deskartes percaya kelenjar pineal sebagai titik temu antara pikiran dan tubuh. Pikiran dapat menggeser-geser kelenjar itu dan karenanya membuka atau menutup lubang (pori-pori) otak. Melalui pori-pori ini, “animal spirits” mengalir melewati saluran kecil menuju otot, mengisi dan mengembangkan otot sehingga menjadi tebal dan pendek, dan karenanya bisa menggerakkan bagian-bagian tubuh yang terkait dengannya.

a.       Menjajaki Paradigma tokoh Neurofisiologi

1.      Donald Olding Hebb

Donald Olding Hebb lahir tanggal 22 Juli 1904 di Chester, Nova Scotia. Kedua orang tuanya adalah dokter. Tahun 1925 Hebb meraih B.A. dari Dalhousie University dengan nilai minimal. Hebb adalah salah satu periset dan teoritis dalam psikologi, nilai sarjananya, dalam kasus ini, tidak mempresentasikan kecerdasannya. Setelah lulus, Hebb mengajar di sekolah di desa tempat dia dibesarkan. Pada usia 23 tahun, dia membaca karya Freud dan merasa bahwa ilmu psikologi masih perlu diperbaiki. Hebb melanjutkan pendidikan Psikologinya di McGill University dengan satu tekad, yakni mereformasi praktik pendidikan. Hergenhann dan Olson (2010 : 395)

Menurut Hebb, setiap lingkungan yang kita alami akan menstimulusi pola neuron yang kompleks, yang dinamakan cell assembly (kumpulan sel). Misalnya, saat kita melihat pensil, kita akan menggeser perhatian kita dari ujung atas sampai ke ujung bawah. Saat perhatian kita bergerak, neuron-neuron yang berbeda menjadi aktif. Saat semua neuron yang distimulus oleh aspek-aspek yang berbeda dari pensil itu sudah terstimulasi, hasilnya adalah persepsi dan identifikasi pensil.

Postulat neurofisiologis Hebb (1949) mengemukakan mekanisme yang menyebabkan neuron yang terpisah menjadi terhubung menjadi kumpulan sel yang stabil, dan yang menyebabkan kumpulan itu diasosiasikan dengan kumpulan lainnya.  

Menurut Hebb ada dua jenis belajar. Yang pertama berkaitan dengan pembentukan kumpulan sel dan konsekuensi fase secara gradual selama masa bayi dan kanak-kanak. Proses belajar awal ini representasi neurologis atas objek dan lingkungannya. Semakin kompleks suatu lingkungan, semakin banyak yang akan dipresentasikan dalam level neurologis. Semakin banyak yang direpresentasikan dilevel neural, semakin besar kemampuan anak untuk berpikir. Jenis belajar yang kedua adalah kelanjutan dari bentuk pertama. Dimana proses ini adalah bentuk penataan ulang. Dengan kata lain setelah blok bangunan terbentuk, blok itu dapat diatur kembali menjadi berbagai macam bentuk. Proses belajar ditingkat selanjutnya adalah konseptual, cepat, dan berwawasan. Hergenhann dan Olson (2010 : 433)    

3.      Teori Evolusioner

a.      Gambaran Dasar Teori Evolusioner

Teori evolusioner lebih menekankan pada sejarah evolusi proses belajar organisme. Paradigma ini lebih berfokus pada cara di mana proses evolusi mempersiapkan organisme untuk beberapa jenis belajar tetapi membuat jenis belajar lain menjadi sulit atau mustahil.

Penerimaan teori evolusi oleh komunitas ilmiah menandai pukulan telak terhadap ego manusia. Evolusi mengembalikan kontiunitas antara manusia dan hewan lain yang telah diabaikan selama berabad-abad. Kehadiran karya Darwin (1859-1958) On the Origin of Species by Means of Natural Selection, yang mempopulerkan konsep natural selection (seleksi alam) sebagai dasar dari perubahan tersebut. Hergenhann dan Olson  dalam buku Theories of Learning menggambarkan Ciri esensial dari seleksi alam, dan relevansinya bagi psikologi evolusioner, adalah

ü  Ada variabilitas (variability) natural di dalam suatu spesies. Variabilitas ini mungkin lebih banyak diekspresikan dalam aktivitas visual di beberapa anggota suatu spesies, atau dalam kekuatan fisik di beberapa anggota lainnya, atau dalam kecepatan belajar di anggota lainnya lagi. Perbedaan-perbedaan individual ini membentuk blok bangunan dasar dari proses evolusi dan merupakan unsur esensial dari evolusi.

ü  Hanya beberapa perbedaan individual yang dapat di wariskan. Yakni, hanya beberapa yang dapat diturunkan dari orang tua ke anak dan dari anak ke anaknya, dan seterusnya. Variasi yang disebabkan oleh mutasi genetik atau oleh kejadian lingkungan yang tidak menguntungkan bagi anggota suatu spesies tidak akan diturunkan ke keturunannya. Demikian pula variasi belajar dalam perilaku, entah itu menguntungkan atau tidak, mungkin di transmisikan ke generasi berikutnya melalui belajar, tetapi tidak dapat diwariskan.

ü  Interaksi antara atribut organisme dengan tuntutan lingkungan tempat ia tinggal akan memungkinkan terjadinya seleksi alam.  

b.      Jejak Paradigma tokoh Evolusioner

1.      Robert C. Bolles

Robert C. Bolles lahir di Sacramento, California, tahun 1928. Bolles mendapat pendidikan di ruamah sampai berusia 12 tahun. Bolles memperoleh gelar B.A. di Stanford University tahun 1948 dan meraih M.A bidang matematika di stanford setahun kemudian. Pertemuan Bolles dengan Garcia salah satu mahasiswa doktoral di University of California di Berkeley. Bersama Garcia, Bolles mengikuti kuliah psikologi dibawah bimbingan Tolman. Setelah merai gelar Ph.D tahun 1956, Bolles bertugas di University of Pennsylvania dan kemudian ke Princeton University. Tahun 1959, dia pindah ke Hollins College, dan tahun 1964 dia ke University Washington dan mengajar di sana sampai dia meninggal pada tanggal 8 April 1994 karena serangan jantung. Hergenhann dan Olson (2010 : 443)

Sepanjang kariernya Bolles menulis lebih dari 160 artikel riset dan tiga buku teks yang berpengaruh, termasuk teks tentang teori belajar. Dia bekerja sebagai editor Animal Learning and Behavior tahun 1981 sampai 1984.

A.    Analisis Teori Belajar

Pada prinsipnya setiap teori yang dikemukakan oleh para ahli adalah benar dalam bingkai-bingkai tertentu. Sementara implementasi yang dituntut saat ini adalah kemampuan pengajar dalam menghargai pembelajar sebagai manusia yang bersifat individual dan sosial. Kaitannya dengan analisis teori belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini

No

Teori Belajar

Konsep Dasar

Keunggulan

Kelemahan

1

Fungsi Analistik Dominan

belajar dilakukan dengan langkah-langkah kecil yang sistematis bukan langsung melompat ke pengertian mendalam

-       Menekankan pada kesiapan dasar dan mental pembelajar

-       Mendorong daya Ingatan

-       Materi-materi yang mengarah pada kaidah hukum yang tetap

-       Belajar tidak dimediasi oleh ide

-       Semua mamalia (Manusia dan hewan lainnya) belajar dengan cara yang sama

 

2

Asosianistik Dominan

Dalam belajar semakin sering suatu pengalaman terjadi, semakin mudah pengalaman itu diingat atau dilakukan lagi

-       Belajar yang bersifat pengulangan dapat dilakukan dalam pendekatan psikomotorik

-       Menafikan kemampuan imajinatif yang dapat mendorong kecepatan daya ingatantanpa melalui proses perulangan

3

Kognitif Dominan

Belajar adalah fenomena kognitif. Organisme mulai melihat solusi setelah memikirkan problem

-       Belajar mampu mendorong kerja-kerja otak secara spontan.

-       Struktur sel dalam otak adalah satu sistem yang sama

-       Mengabaikan atau meminimalkan pengaruh pengalaman masa lalu

-       Tidak memperhatikan konsep gizi dalam hal konsumtif

4

Neurofisiologis Dominan

Belajar membutuhkan rekrutmen kumpulan sel dan konsekuensi fase yang diperlukan untuk memunculkan perilaku motor atau kognitif

-       Penerimaan informasi melalui tahap-tahap sensorik yang dikombinasi secara biologis

-       Mengabaikan kemampuan analisis yang dimiliki pembelajar

5

Evolusioner

Perilaku manusia selalu merupakan fungsi dari gen dan dan kultur

-       Kecerdasan adalah sifat genitas yang dimili manusia

-       Dominasi kultural yang harus dihindari

-       Mengabaikan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang oleh satu individu dapat meningkatkan pemahaman objek yang diulangi.

-       Akselarasi kultur yang berimplikasi pada tingkat keragaman kultural

 

 

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

A.    Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak melakukan kegiatan yang sebenarnya merupakan gejalah belajar, dalam arti mustahillah dapat melakukan kegiatan itu, kalau tidak belajar terlebih dahulu, Winken dalam Abdi (2009: 11) menyatakan, bahwa terlalu banyak hal yang kita lakukan jika ingin sebutkan satu-persatu, namun secara spontannitas kegiatan yang dilakukan adalah bagian dari belajar.

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Sejalan dengan itu, Slameto (1990:2) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Kimble dalam Hergenhahn dan Olson (2010 : 2), mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktek yang diperkuat).  Menurut Syah (2003:68 ) menyatakan bahwa belajar sebagai tahap perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pembelajaran dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sedangkan menurut Slameto   (2003: 2 ) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

Morgan dalam porwanto (1994:40), menyebutkan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang menetap dalam tingka laku yang terjadi  dari hasil pengalaman  dan latihan. Pengertian belajar lebih menekankan pada kegiatan mental psikologi sehingga perubahan yang terjadi bersifat relatif parmanen. Belajar adalah suatu proses dimana seseorang mengangkat perubahan tingka laku sebagai hasil belajar dan latihan. Dalam defenisi tersebut mengendung pengertian bahwa faktor latihan memegang peranan penting dalam perubahan tingka laku.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Winataputra (2000:24 ) Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabilah pikiran dan perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diawali oleh orang lain, akan tetapi terasa oleh yang bersangkutan ( organ yang sedang belajar itu ). Kemudian belajar yang dikemukakan oleh Anurrahman (2009:33 ) merupakan kegiatan penting bagi semua orang, termasuk didalamnya belajar bagaimanan  seharusnya belajar. Sedangkan menurut Mujiono dan Dimyati ( 2002:18 ) belajar merupakan proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Selanjutnya, Ahmadi (2002:279) mengemukakan  bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuham atau perubahan dalam diri seseorang   yang dinyatakan dalam cara-cara tingkah laku atau berkat pengalaman dan latihan.

Dalam belajar diperlukan kesiapan intelektual. Kesiapan intelektual disini mencangkup belajar itu dilakukan melalui tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan kesiapan intelektual anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne dalam Hudoyo (1998:25) bahwa belajar itu melalui tahapan dan jenjang latihan. Dan tahapan-tahapan tersebut selalu berkaitan satu dengan yang lain. Di jelaskan pula bahwa tahapan belajar yang lebih tinggi didasarkan pada tahapan belajar yang lebih rendah.

Proses belajar mengajar merupakan ranngkaian kegiatan komunikasi antara manusia yakni orang yang belajar (siswa) dan orang yang mengajar (guru). Komunikasi antara siswa dan guru dipengaruhi oleh objek lainnya. Roestiyah (1994:39) menyatakan bahwa komponen-komponen itu antara lain: tujuan belajar, materi pelajaran, metode mengajar, sumber belajar, media untuk belajar, manajemen interaksi belajar mengajar, evaluasi belajar, anak yang belajar, guru yang mengajar dan pengembangan dalam proses belajar.